Aumni kita yang satu ini kini bekerja sebagai Supervisor di Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Lokomboro. Namanya Andre Lede. Sehari-hari ia tampak berada di lokasi untuk mengatur kegiatan unit pembangkit. Ketika penulis sampai di lokasi, ia lagi mengawasi para pekerja dari Pusharlis Bogor yang sedang mengerjakan pemeliharaan turbin.
"Mereka ada empat orang dari Pusharlis. Ada dua orang mekanik, satu teknisi, dan satu manajemen," begitu ia merinci.
"Seandainya pemeliharaan pembangkit terjadwal lebih awal, siswa prakerin bisa ikut kegiatan berkala ini," katanya. Memang, sebelumnya ia menginformasikan bahwa kegiatan prakerin bertepatan dengan pemeliharaan unit turbin. Namun keterlambatan terjadi karena tim pemeliharaan harus terlebih dahulu mengerjakan unit PLTMH di area Papua.
"Tim pemeliharaan baru tiba kemarin, dan hari ini kegiatan prakerin berakhir" ungkapnya dengan nada agak kecewa. Maklum, para yuniornya dari SMKN 1 Wewewa Barat tidak sempat mengikuti kegiatan pemeliharaan PLTMH ini, ia sebagai senior cukup menyayangkan juga.
Saat ditanya pengalamannya belajar di SMKN 1 Wewewa Barat, alumni tujuh tahun lalu ini masih ingat baik guru-guru jurusan. Ia adalah alumni dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan. "Waktu itu ada guru senior Pa Mul, Pa Man, Pa Titus, dan Pa Buche. Kalau pak Buche mengajar listrik dasar," begitu kenangnya.
"Saya belajar dengan serius materi listrik dasar yang diasuh oleh pak Buche. Tahu-tahu, materi yang diajarkan itu keluar pada soal tes masuk PLN." Ia menceritakan. Ia juga menambahkan bahwa pengetahuan kelistrikan yang sudah ia peroleh di SMK terasah lagi saat berkesempatan magang di BLK Don Bosco Waitabula.
Menurut penuturannya, setamatnya dari SMKN1 Wewewa Barat, ia sempat kuliah vokasi di politeknik Negeri Kupang. Namun kebetulan ada pembukaan test PLN, ia ikut mendaftar dengan ijasah SMK. "Yang dari SMA dan SMK bagian pembangkit soal testnya sama. Sedangkan untuk bagian kelistrikan jaringan soal test beda lagi", ia menceritakan.
Terkait struktur lembaga tempatnya bekerja, ia menuturkan bahwa dulunya PLTMH yang mulai dibangun tahun 1995 ini berada di bawah manajemen PLN Area Waikabubak. Namun kini, mereka sudah di bawah ULP Waingapu, Pembangkit Sektor Timor. Semua unit pembangkit di Sumba kini berada dibawah ULP Waingapu, tidak lagi menginduk ke Area Waikabubak.
Tampak di lokasi sore ini, banyak komponen suku cadang pengganti masih terbungkus rapi dalam rak-rak pengiriman, siap untuk dibuka dan dipasang oleh pekerja. Sebuah mobil travel juga terparkir di situ, siap menjadi tunggangan di trek sulit jalur Dikira menuju Waikabubak. "Dua orang mekanik tinggal di mess, sementara dua personel lainnya setiap sore harus pulang ke hotel di Waikabubak," tuturnya.
Terkait kegiatan prakerin siswa, ia menceritakan bahwa para siswa sering ikut pembersihan di ambang, jalur air yang nantinya menuju ke penstok atau saluran pipa. Sementara di lokasi para siswa juga memantau dan mencatat kWh meter dan beban yang dihasilkan oleh pembangkit. "Mesin-mesin akan beroperasi maksimal pada Februari dan Maret nanti, jadi sekarang ini mesti dipersiapkan. Selain tim ini, ada juga empat orang lain dari Pusharlis Bogor yang melakukan perawatan di PLTM Umbu Wango di Wewewa Selatan. Namun PLTM Umbu Wango hanya operasional saat musim hujan ketika debit air cukup. Untuk musim kemarau, turbin di sana off total," demikian pungkasnya. (Teks: Simon)